Harus Melangkah

Jadilah pelangi yang indah

Engkau adalah pelangi dalam hidupku, pelangi yang akan selalu ada di hatiku. Saat ini, nanti, dan selamanya...


Tapi aku mengerti,

Aku harus melangkah, menjalani takdir hidupku dan aku akan belajar untuk mengikhlaskanmu dalam menjalani takdirmu.


Namun, tidak bisa aku ingkari, aku ingin menjagamu, aku ingin melindungimu, aku ingin membahagiakanmu..

Hanya untuk satu pelangi, itu kamu...

Mei 2013
Salleum Sami

apakah tak perlu lagi 'bersalaman' yang ikhlas sepenuh hati
yang penuh kebersahajaan, kehangatan, persaudaraan
'bersalaman' tanpa merasa lebih dari yang lain

'bersalaman' tanpa membedakan

pangkat, kedudukan
entah kau pemimpin ataupun engkau seorang bawahan
entah kau qiyadah entah engkau seorang jundi
entah kau seorang presiden atau engkau hanya seorang pelayan pembuat minuman
entah kau seorang guru ataupun murid
entah senior ataupun yunior
'bersalaman' tanpa merasa lebih pantas dihargai dari yang lain
'bersalaman' tanpa merasa kau lebih berhak dihormati dari yang lain

karena yang Allah lihat adalah hati dan amalan kita
ketaqwaan kitalah yang membedakan manusia satu dengan manusia yang lain
Allah-lah hakim yang berhak mebedakan

teringat potongan percakapan Rosulullah dgn seorang arab badui:
"Wahal orang Arab! janganlah berbuat serupa itu (arab badui hendak mencium kaki Rosulullah, karena saking bahagianya, tidak menyangka dirinya akan bertemu dgn Rosulullah. seketika Rosul mencegahnya). Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada juragannya, Ketahuilah, Allah mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi membawa berita"

saudaraku
pandanglah kecil banyaknya kebaikan yang kau buat
karena bisa jadi besar kebaikan yang kau anggap, kecil dihadapan Allah
pandanglah besar sekecil apapun dosa yang kau lakukan
karena kecil dosa yang kau anggap bisa jadi besar di hadapan Allah
dosa-dosa kecil adalah benih-benih keberanian untuk melakukan dosa-dosa besar

saudaraku
izzah kita sebagai seorang muslim
tidak dibangun dengan pangkat jabatan
tidak pula dilihat dari harta dan kemewahan
apalagi tampang yang setiap waktu akan memudar

izzah kita dibangun dari kesungguhan, keteguhan, kepahaman, keikhlasan, serta keyakinan yang mapan, dalam menjalankan agama Allah, risalah Rosulullah, "Diinul Islam"
yang tidak akan pernah bisa diterjemahkan dan dipahami oleh orang-orang yang terlepas dari petunjuk Allah

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad-jasad kalian dan tidak juga kepada rupa-rupa kalian akan tetapi Allah melihat kepada hati-hati kalian (dan amalan-amalan kalian)” (Hadits Riwayat Muslim).

...
saudaraku siapun kita
sebagai apapun kita nanti
di level manapun kita berada
tidak layaknya membuat diri kita
merasa lebih berhak dihormati dari yang lain
merasa lebih pantas dihargai dari yang lain

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(Surat 49 Al-Hujuraat Ayat 13)

Hanya Allah-lah pemilik kesombongan
ya Rabbi kami berlindung dari fitnah dunia

wallahu'alam

semarang, 27 Januari 2011
salleum sami

Categories:

2 Responses so far.

  1. dari berjabatan tangan (dengan yang mahram tentunya) bisa 'diukur' sedalam apa 'rasa' kita pada orang itu.. dan 'rasa' orang itu pada kita..
    semakin erat kita berjabat tangan, membuktikan bahwa ada 'ikatan' diantara kita.. ^_^

  2. Semoga berjabat tangan tidak hanya sekedar menjadi ritual atau kebiasaan, tidak sekedar menjadi budaya. Tapi darinya kita betul-betul bisa memaknai arti penghargai, arti persaudaraan dalam ukhuwah yang indah ini :)

Leave a Reply