Posted by Unknown
-
Padahal itu adalah saat pertama kalinya aku belajar menyisir rambutku sendiri.
Kujaga betul-betul, sampai-sampai angin tak kuizinkan merubah posisi sehelai rambutpun dari kepalaku. Bahkan saat amak mau menyentuhnya, aku larang "jangan amak! nanti rusak" sambil kututupi kepalaku dengan kedua telapak tanganku. Amak-pun tidak jadi mengusap rambutku.
Sampai disekolah, aman! rambutku masih ada di posisinya masing-masing. Tidak berubah bentuk sedikitpun. Aku masuki halaman sekolah. Aku lihat disana teman-temanku sudah banyak yang datang. Biasanya baru satu-dua yang datang, mungkin tadi nyisirnya terlalu lama, jadi sampai di sekolah agak siang.
Akupun ikut bergabung dengan mereka, bermain bersama. Ada yang kejar-kejaran, perang-perangan, main bola...dll. Tapi saat itu aku lebih memilih bermain dengan anak-anak perempuan, takut rambutku nanti berantakan kalau main kejar-kejaran atau perang-perangan. Jadilah aku bermain pasar-pasaran dengan mereka, anak-anak perempuan. -hihi lucu ya, anak cowok mainnya pasar-pasaran, tapi ya begitulah.
Belum selesai kami membagi peran untuk memulai permainan, tiba-tiba ada yang menubrukku dari arah belakang. Temanku terpeleset saat kejar-kejaran dan tubuhnya menghantam tubuhku, keras! tubuhku sampai terjungkal. Kontan saja kami berdua menangis, kepala kami sempat beradu, sakit!. Tapi yang lebih membuatku menangis adalah saat aku tahu kalau sisiranku telah acak-acakan, rambutku berantakan, kotor terena tanah.
Read More …