Harus Melangkah

Jadilah pelangi yang indah

Engkau adalah pelangi dalam hidupku, pelangi yang akan selalu ada di hatiku. Saat ini, nanti, dan selamanya...


Tapi aku mengerti,

Aku harus melangkah, menjalani takdir hidupku dan aku akan belajar untuk mengikhlaskanmu dalam menjalani takdirmu.


Namun, tidak bisa aku ingkari, aku ingin menjagamu, aku ingin melindungimu, aku ingin membahagiakanmu..

Hanya untuk satu pelangi, itu kamu...

Mei 2013
Salleum Sami

Seolah hati diombang-ambing dua samudra
Untuk terus atau bertahan pada ketetapan yang awal
Tidak tahu pasti apa yang sebetulnya diinginkan oleh hati ini
Walau mungkin hati ini punya jawabnya sendiri
Sama tidak tahunya apa yang sebenarnya sedang terjadi
Walau mungkin diri ini punya caranya  sendiri untuk mengerti

Seolah sedetik waktu kehilangan ukuranya untuk melaju
Seperti anak panah yang kehilangan arah
Tidak tahu kemana titik sasaran yang harus dituju

Entahlah...
Begitu banyak rasa bercampur di dada
Apakah harus memilih?
Walau aku ingin menyatukanya dalam satu rasa yang indah

Ya Rabbi
Engkaulah yang mengizinkan bunga-bunga bermekaran begitu indahnya
Yang mengizinkan  sungai-sungai menemukan tempat bemuaranya
Yang menjadikan bumi beratap bulan dan bintang-bintang nan menawan

Ya Rabbi
Engkaulah Kuasa 
Yang tidak akan pernah luput sekecil apapun dari kuasa-Mu
Hanya kepada-Mu aku tautkan segala kemungkinan
Kepada-Mu aku gantungkan semua harapan
Hanya kepada-Mu aku berlindung dari segala rasa

Hanya kepada-Mu ya Allah aku memohon
Izinkan tempat yang paling indah untuk hatiku bermuara

Hanya kepada-Mu ya Allah
Sepenuh cinta
Sepenuh kasih


Ketika kehidupan tidak cukup bermurah hati mewujudkan mimpi, kita tambatkan harapan kepada sumber segala harapan; Allah! (Anis Matta)

Ketika engkau terasa sempit memandang dunia, maka pandanglah langit
 Tidak akan jatuh daun dari rantingnya, kecuali Allah telah menetapkan urusannya..

Semarang, 26 September 2011
Salleum Sami

Read More …

Usianya 35 tahunan, posturyna tinggi besar, perawakan tentara. tapi sayang, kerjaanya bawa map isi surat-surat untuk sumbangan. Ini perkiraan sementara..

Pagi jam 10an
"Se..lamat pa gii.." terdengar agak ragu-ragu. Seorang laki-laki dengan memakai dua buah krek yang menopang kedua kakinya, bercelana jeans, baju masuk, tampak lebih rapi, kemejanya kotak-kotak warna biru gelap, merknya...tidak begitu kuperhatikan, tidak penting batinku. Mungkin sama seperti orangnya, tidak penting. Saya megatakan ini bukan untuk bermaksud tidak sopan, tapi memang saya cukup sering berhadapan orang-orang semacam ini, yang mengaku dari sinilah..sanalah..panti inilah itulah. Langsung masuk karena memang pintu kantor pas lagi terbuka.

"Iya pak ,selamat pagi, silahkan”

"Dari mana..dan ada perlu apa ya..?" ku perhatikan orang ini (tentu saja kulakukan dgn sikap yang biasa). Curiga! ini kesan pertama. kesimpulan ini kudapatkan dari analisis sederhana yang aku lakukan waktu dia masuk pertama kali tadi. Dia bukan seorang aktor yang baik, bahkan buruk. Terlihat dari caranya menggunakan krek, blepotan ndak karuan.

"Maaf mas, eeemm saya dari ********..." kemudian ingin menjelaskan maksud kedatangannya, tapi sebelum selesai menyampaikan maksudnya sengaja saya potong, karena saya rasa saya cukup mengerti kemana arah pembicaraannya.

"Ohh ya tunggu sebentar" dan langsung saja saya masuk, saya panggilkan orang yang tepat menghadapi tamu yang satu ini. nama orang itu sendiri taulah belum sempat untuk bertanya.

Akhirnya temen saya yang menemui orang itu dan saya sendiri saat itu masih satu ruangan dgn mereka, jadi apa yang mereka bicarakan cukup jelas terdengar dari tempat dimana saya duduk. Pak Trisno, nama orang itu, begitu yang aku dengar saat dia memperkenalkan dirinya kepada temen saya.

"Bla..bla..bla.." pembicaraan selesai, setelah akhirnya temen saya mengeluarkan amplop.Isinya berapa aku tidak tau yang jelas isinya duwit.

Nah, setelah mengucapkan terimakasih, waktu dia bangun dari tempat duduk, mungkin kelupaan atau gmn atau mungkin juga saking gembiranya, yes dapet!!. dia trus bangun begitu saja, seolah-olah tidak tejadi apa2 pada kakinya, tapi dia orang yang cukup reaktif itu menurutku, belum sempurna dia berdiri sedetik kemudian dia pakai krek nya seperti semula, mugkin tau kalau di perhatikan.
Kejadian itu memeperkuat kecurigaanku dari awal tadi. Dia memang seorang aktor yang buruk, tapi setidaknya tujuannya berhasil, dapet duwit.
...
Mungkin benar kata para pengamat, Indonesia sudah merdeka selama 66 tahun, tapi mentalitas bangsa ini masih tetep terjajah sampai sekarang. Kisah diatas setidaknya menghadirkan titik kecil bukti keterjajahan mental bangsa ini. Terlalu banyak potensi bangsa ini yang terbuang percuma, keindahan dan kekayaan alam, kebijakkan pengelolaan yang tidak benar. Mudah sekali mengatakan kebijakkan ini tidak benar, lihat saja kondisi rakyat  masih jauh dari kata sejahtera, kalau kebijakkan benar tidak mungkin itu terjadi.

Potensi pemuda dan sumber daya manusia, hilang! bagaimana tidak? sudah keterlaluan setiap pagi, setiap hari, pemuda-pemudi bangsa ini "dipaksa" menyaksikan mendengarkan baik dari tv atau langsung, musik-musik picisan, jingkrak-jingkrak, karuan saja musiknya menimbulkan gelora yang mengerakkan, menyadarkan apa yang sedang dialami bangsa ini dan apa hal kecil yang bisa dilakukan. Sebaliknya justru menenggelamkan dan menegaskan terjadinya "keterjajahan mental", membangkitkan budaya hedonisme permissifisme (serba boleh). Waktunya habis untuk memikirkan hal-hal yang kecil. Seolah-olah masalah kita hanya cinta-cintaan yang tidak jelas kemana arahnya –Astaghfirullah..

Ironis memang, hiburan, refreshing yang seharusnya hadir sebagai selingan dari "menu utama", agar kita tetep semangat, justru menjadi arus utama anutan yang sering disalah artikan dan disalah gunakan.  Bangsa ini sudah "over dosis" dalam mengkonsumsi hiburan, kalau overdosis obat jelas mati akibatnya, tapi yang ini beda yang mati adalah pikiran kita, mentalitas kita. Duh pemuda Indonesia kemana hendak kau tujukan langkahmu?

Sebuah kutipan dari kalimat Bung Karno
“Beri aku satu pemuda akan kugoncang Indonesia, beri aku sepuluh pemuda akan kugoncang dunia”
Begitulah hebatnya pemuda, dia adalah penggerak dalam tubuh sebuah bangsa, Indonesia.  “Antum ar ruhul jadid fi jasadil ummah” (kalian adalah ruh baru dalam tubuh umat) (Hasan Al Banna)
pesan itu jelas ditujukan untuk siapa..,yah itu untuk kita "pemuda Indonesia". Semoga kita segera berbenah

Wallau'alam
Semarang, 18 Januari 2011
salleum sami


Read More …

selaksa do'a penuh cinta utk abah di surga
dari kakak, adek, amak. we love you dad

abah
sekarang sudah tahun 2011 atau 1432 H, tepat 10 tahun abah meninggalkan kami untuk memenuhi panggilan Rabb yang kami cintai, yang di tangan-Nya kekuasaan atas diri ini berada dan tempat dimana belas kasih dan harapan di gantungkan.

abahku sayang
semoga abah disana baik-baik. abah! amak titip salam, salam rindu katanya, sudah aku sertakan bingkisan air mata rasa cinta juga dari amak. semoga abah senang mendengarnya. cahaya-Nya semakin terang menerangi langkah abah disana. amin

oya bah adek juga titip salam, salam cling-cling. kemarin sempet nanya ma kakak,  buru-buru soalnya mau balik ke pondok, maklum bah waktu itu hari terakhir liburan, jadi harus cepet-cepet balik.

"kak ada foto abah yang itu dimana yahh? mau aku bawa, nanti pas aku kagen abah atau pas aku sedih, lihat foto abah yang itu pasti aku kembali bahagia setidaknya akau bisa tersenyum lihat foto abah"
tambah adek lagi, "soalnya foto abah yang itu senyumnya manis sih.., 'cling-cling'..hehe"
itu loh bah, foto waktu abah masih pake gigi perak, itu kan abah pas ketawa, jadi pas kena bliz foto ya.. cling-cling hehe. adek suka sama foto itu bah. katanya abah lucu pas di foto, gigi peraknya itu loh.

kalau kakak mah lebih suka foto waktu abah foto bareng amak. waktu itu kakak kan mau foto abah sama amak trus kakak bilang "bah, tangan amak di pegang dong biar tambah mesra"
lihat abah yang jadi cilang-cilung, malah membuat kami berlima ketawa-ketiwi he, masa dah hampir 30 tahun menikah abah masih malu-malu megang tanga amak ish..ish..ish (ini niru gaya upin-ipin bah, itu kartun anak yang sekarang lagi naik daun).

kakak juga sih, masih suka godain abah sama amak, tapi pun begitu fotonya tetep bagus kok. tapi ada yang lebih bagus bah, lebih istimewa, kenangan yang tersimpan didalam foto itu. sangat berharga bah. tapi sayang fotonya ba'da kejadian itu ndak tahu ada dimana, afwan ya bah, tapi walaupun begitu kenangan itu akan tetap terdokumentasikan dengan baik di hati kami, putra-putri abah dan amak yang manis-manis (itu kata tetangga-tetangga kita dulu).

abahku sayang
Alhamdulillah adek masih bisa sekolah, sekarang kelas 2 KMI di salah satu pondok putri di solo, adek dah remaja lho bah, dah 17 tahun. InsyaAllah tentang adek lain kali aku ceritakan deh bah.
sekarang aku ingin berbagi cerita dengan abah, cerita roda kehidupan keluarga kita setelah abah pergi meninggalkan kami untuk selamanya. roda kehidupan yang sering abah bicarakan.

abahku sayang
semoga abah selalu dalam lindungan Allah. betul kata  abah dulu, kalau kehidupan itu bagaikan roda yang berputar kadang dia di atas kadang juga dia dibawah. sambil becerita tentang hidup abah, yang dulunya anak petani, ndak tamat SD, menjadi orang yang seperti sekarang ini, abah yang sangat aku banggakan.  

ini tentang kenangan beberapa tahun setelah abah pergi, pergi untuk selamnya.
setelah kepergian abah. keluarga kita serasa berbeda, tidak hanay berbeda dengan tidak adanya sosok abah disana, tapi semua berubah, semuanya bah, dari punya apa-apa sampai tidak punya apa-apa.

abah pergi terlalu cepat, kakak masih terlalu muda untuk menggantikan abah mengurusi binis keluarga, apalagi kami waktu itu masih duduk di bangku SMP, jadi sama sekali belum ngerti tentang bisnis. di tambah krisis ekonomi yang melanda negeri kita, yang membuat banyak pengusaha gulung tikar. -ini aku tahu saat aku sudah dewasa, setelah membaca banyak artikel dan literatur tentang "tragedi '98"-.

abah pasti sudah bisa menebak cerita kelanjutan bisnis keluarga kita, iya bah, akhirnya kakak hanya mampu bertahan tiga (3) tahun, setelah itu semuanya abis bah, hanya tinggal kenagan yang indah dan beberapa petak tanah, yang terakhir ini mati-matian amak pertahankan.

"ini tidak boleh dijual, pokoknya tidak boleh, kalau ini di jual adek-adek kamu dapat apa" kata amak pada kakak sambil nangis, baru kali ini saya lihat amak nangis sedemikian hebat. akhir-akhir ini banyak orang datang menagih hutang, saluran telepon terpasak di putus, karena setiap kali ada telpon pasti orang yang mau nagih hutang. dan sekali lagi amak pasti nangis.
"kalau abahmu masih hidup, tidak mungkin jadi seperti ini.. kata-kata orang tua itu mbok di dengar to le le..., apa sudah tidak kau anggap amak ini sebagai amak kamu? ato sebaiknya amak nyusul abah saja? biar sekalian, kalian tidak punya amak dan abah" masih dengan ar mata yang terus keluar, tidak tau bah waktu itu rasanya ada yang begitu menyesakkan di sini, si dalam sini bah, ada yang menyesak, mendesak ingin keluar, maaf bah -ini pun belum aku mengerti-, tiba-tiba pipiku sudah basah, basah oleh air mata.

waktu itu amak menggangap semua karena kesalahan kakak, kakak di nilai terlalu baik bahkan terkesan ngawur untuk usia bisnis yang masih bau kencur,-ini pun aku pahami saat aku dewasa yang sedikit mengerti tentang dunia bisnis-. mafkan saya bah waktu itu saya masih terlalu kecil untuk memahami apa yang sdang terjadi, tidak mampu memberi masukan apapun, apalagi adek waktu itu umurnya baru 9 tahun, mana ngerti dunia bisnis.

semua berawal dari sebuah spekulasi yang kakak lakukan. -kalau saya menyebutnya "spekulasi untuk kebaikan"-, jadi kakak memberi barang daganggan kepada beberapa orang, tidak beberapa orang sih bah, soalnya ada keponakan abah, mantan karyawan abah dan beberapa orang baru. niatnya baik agar mereka punya kerjaan, dan kakak juga punya daerah pemasaran baru. hampir semua kakak yang modalin.

awalnya berjalan lancar, tapi kira 1,5 tahun kemudian ada pemain baru, tetangga kita juga bah, tapi kondisi keuangannya jauh lebih baik dari pada kondisi kita saat itu. cara instan, yang mereka terapkan untuk merebut pasar adalah 'jual rugi'. entahlah bah sistem ini ada gak di bangku kuliah, tapi yang jelas kalau di lapangan sistem ini ada, apalagi untuk jenis usaha yang keluarga kita lakukan, sangat efekstif, walaupun tetap penuh resiko. jadi mereka menjual barang yang sama kualitasnya, tapi dengan harga yang segaja dirugikan, kekuatan utama adalah modal, tujuan utama adalah menguasai pasar, jadi pemain tunggal.

disinilah kesalahannya bah. ini pun aku tahu setelah aku dewasa, -dan bukan sempurna sebuah kesalahan, itu menurutku-. kakak tidak ridho kalau pasar yang dibangunnya dengan waktu dan cara baik-baik harus hilang dengan cara yang semacam itu.

yang ini abahpun bisa tebak cerita kelanjutannya, iya bah akhirnya kakak kalah, -perlawanannya sudah maksimal bah-, kakak kalah modal, kakak kalah pengalaman, kakak dengan tidak adil, itu menurutku bah, tapi sekali lagi waktu itu kakak masih anak kemarin sore dalam bisnis keluarga kita.
abahku sayang

abah tahu, saat itulah saya merasa keluarga kita berada di sisi roda kehidupan bagian bawah, bawah yang paling bawah bah. masa-masa yang paling sulit, masa-masa penuh air mata. berat bah...
sejak usaha keluarga kita bangkrut, dan utang keluarga menupuk. setiap saat, bahkan hampir tiap hari orang datang untuk menagih hutang. semestinya bisa dengan menjual beberapa petak tanah untuk melunasi utang keluarga kita, tapi amak tidak mengizinkan. mungkin amak berpikir, itu satu-satu peninggalan abah untuk adek-adek yang masih kecil.

abahku sayang
maaf bah bagian ini baru sekarang saya ceritakan, empat tahun setelah kepergian abah selama itu pula, kita hampir tidak pernah lagi melihat amak tersenyum, senyum yang penuh kesejukkan itu hilang bah, amak lebih banyak menangis, merenung, menangis. tidak hanya itu bah amak, malaikat kami yang penuh kelembutan itu berubah menjadi pemarah, marah tanpa alasan yang dapat kami mengerti.

rumah yang dulu seperti surga, sekarang seperti rumah kosong yang jauh dari aroma canda kehidupan, rumah kita jadi panas, pengap, hanya kenangan-kenangan indah waktu kita masih bersama dulu sesekali menghadirkan hawa sejuk. itupun hanya sebentar. segera terhapus oleh amarah amak, atau kalau tidak terhapus oleh tangisan amak.

pernah waktu itu adek mau berangkat ngaji, saat itu adek masih duduk di bangku SD, saya SMA bah.  seperti biasa bah, setiap sore saya yang mengantar adek pergi mengaji. entah kenapa adek tiba-tiba keluar rumah sambil menangis, sampai-sampai susah sekali untuk bernafas.

"adek kakak yang cantik kok nangis kenapa?" sebetulnya saya tahu bah, kalau adek habis dimarahi amak. segaja, sedih bah rasanya melihat adek yang sekecil itu ikut menanggung beban hidup keluarga kita.
"tadi adek mau minta uang saku buat jajan kak. tapi ndak tau, trus tiba-tiba amak marah "minta uang saja bisanya", sambil bentak adek" sesenggukan adek bercerita
"trus di kasih sama amak"
"di kasih kak, Rp 300" sambil menunjukkan tiga uang receh pecahan seratusan kepada saya. sedih banget bah, mau nagis bah sebetulnya, tapi saya tahan -saya harus lebih siap dari pada adek-adek, itu pikir saya. hanya gara-gara uang tiga ratus perak, tiga ratus perak bah. setelah abah pergi amak betul-betul berubah. bahkan untuk alasan yang benar-pun amak masih marah-marah.
"ya sudah, mungkin amak betul-betul ndak punya uang, adek nanti ndak usah jajan dulu yah. uangnya dikasih ke amak lagi aja" adek ndak jawab bah adek cuma nganguk, sambil menyerahkan uangnya ke saya. abah harus bangga, malaikat kecil kita "terpaksa" mengerti kondisi keluarga kita, masih kecil bah. -dalam hati saya berfikir kali ini amak sudah kelewatan- nanti setelah mengantar adek, akan saya tanyakan ini sama amak. saya menyimpan rasa kecewa yang amat besar pada amak, tentu saja tidak saya perlihatkan di depan adek.

Alhamdulillah, adek sudah lebih tenang, setelah itu saya anter naik sepeda ke masjid tengah desa, tempat biasa dia ngaji.

abahku sayang
afwan bah, saya khilaf..
setelah pulang saya langsung menemui amak
"amak!! ini uang amak, kalau amak ndak mau ngasih, ndak usah marahin adek, adek juga bisa kok ndak jajan" sekali lagi afwan bah saya khilaf, saya bentak amak, sambil gebrak meja,
uang 300 saya lempar, sambil nagis bah, ndak tau rasanya semua campur jadi satu, sedih, marah, sakit, kecewa. tidak tahu bah rasanya tidak sanggup lagi menahan, semua keluar begitu saja. aku lihat amakpun menangis, akupun sedih bah melihat amak menangis. sedih.

setelah kejadian itu rasanya ingin pergi dari rumah bah, pergi entah kemana, pokoknya pergi jauh dari rumah. waktu itu yang tinggal dirumah hanya amak, saya, dan adek-adek. kakak tinggal di rumah mertuannya, kakak yang satunya lagi ikut pak lek kerja di luar kota.

saat itu pula kaki ini terasa kaku untuk pergi dari rumah, inget adek bah, kalau saya pergi bagaimana adek nanti, ndak tega bah gmn nanti kalu amak marah lagi, kasihan sama adek.
Alhamdulillah, saya bisa dipaksa untuk dewasa bah, walau hampir tiap hari lihat amat marah trus suatu saat nangis. begitu hari-hari kami lalui tanpa abah disana. berat bah, tapi harus tahan.

abahku sayang
kekuatan untuk tetep bertahanpun aku dapatkan dari abah
"semua boleh hilang, tapi senyum jangan sampai ia hilang walaupun ia hanya tinggal sisa di hati saja, karena senyum adalah titik awal dimana semua cerita kebahagiaan itu berasal"
abah tidak pernah mengatakan ini, tapi inilah teladan yang secara tidak langsung abah ajarkan pada kami, putra-putri abah. terimaksih abahku sayang.

 kami akan selalu sayang sama abah sama amak adek juga, semuanya. nanti aku ceritakan, bagaimana senyum malaikat kelembutan kami itu kembali, senyum amak untuk pertama kalinya setelah sekian tahun abah tiada.

abah
abah sekian dulu surat cinta kami
kami sayang sekali sama abah
abah betul roda kehidupan itu berputar
sedemikian roda keluarga kita bah
sudah bergerak sedikit keatas.
abah
salam berjuta rasa rindu
salam air mata rasa cinta dari amak
semoga abah selalu dalam rahmat Allah


Allah sayangilah abah sebagaimana abah menyayangi kami semua

semarang, 19 Januari 2011
salleum sami



Read More …

Jilbab lontong, begitu kita menyebutnya, kenapa? Ya karena kalau ada wanita berjilbab yang jilbabnya seolah-olah menempel ketat, kecil atau kekecilan sehingga
nampak bentuk kepala serta
lehernya, sering kali membuat ingatan kita melayang pada salah satu makanan khas Indonesia ‘lontong’. Temen-temen tahu dong lontong, tahu jugakan bagaimana bungkusnya, itulah ‘jilbab lontong’, jilbab yang mirip seperti ‘bungkus lontong’.

Begini ceritanya...
Alhamdulillah, mungkin istilah ini - jilbab lontong, menjadi salah satu asebab turunnya hidayah, sehingga sampai saat ini dan semoga sampai kapanpun adik saya –yang satu-satu perempuan dalam keluarga setelah ibu saya tentunya; tidak pernah lagi memakai jilbab yang seperti itu ‘jilbab lontong’. Sekarang selalu memakai ‘jilbab kerudung’, InsyaAllah sebagaimana syariah kita mengajarkan. Sedikit yang saya tahu –kalau salah tolong dikoreksi; jilbab syar’i itu dijulurkan atau dipanjangkan sampai ke dada, tebal tidak tipis atau tidak transparan, lebar tidak sempit, tidak ada perhiasan dan wewangian dll, lebih jelasnya nanti tanya langsung sama pak ustadz atau bu ustadzah aja ya... :)

Mempunyai seorang adik perempuan, sebagaimana yang saya tuliskan diatas dan sebagai seorang kakak, kita memiliki tanggungjawab moral dan kewajiban untuk membimbing dan memberi teladan kepada adik-adik kita, setidak-tidaknya menjadi contoh yang baik untuk mereka.

Seorang ustadz pernah berkata:
“Salah satu kewajiban setiap keluarga itu adalah menjaga dan memastikan bahwasanya setiap anggota keluarganya tetap berada diatas jalan menuju surga, menuju Allah SWT”

Sejak kecil kami biasakan untuk memakai jilbab, saat duduk di bangku TK, SD, SMP dan sampai sekarang di KMI (Kuliyatul Mualimat Al Islamiyah) di salah satu pondok pesantren di Solo.

Lima tahun yang lalu, pada saat masih duduk di kelas 1 SMP, kami merasa perlu adanya pemahaman lebih lanjut bagaimana seharusnya jilbab itu harus dikenakan, harus ada perbaikan dari jilbab yang dipakai adek waktu itu, agar lebih syar’i.
Sebetulnya jilbab yang dikenakan tidaklah ketat, tetapi lebih cenderung kecil, panjangnya hanya sebatas seperempat lengan atas saja, pakaiannya juga biasa tidak lengket melekat dengan kata lain sudah berjilbab, tapi belum syar’i.

Sejak saat itu kami segaja memang kalau membelikan jilbab yang besar atau sedang, setidaknya kalau dipakai pantas secara syar’i disebut dengan jilbab/ kerudung. Kami ingin jilbabnya untuk diganti dengan yang lebih besar, kami jelaskan, kami coba beri pengertian, tapi kami tidak pernah memaksanya; karena sesuatu yang dipaksa itu tidak menyenangkan saya pernah mengalaminya dan itu sangat tidak nyaman, kami terus coba memberi pengertian dengan sehalus mungkin –karena kesadaran yang muncul dengan cinta akan bisa terus bertahan. Hasilnya lebih sering ditolak tidak mau, tetap kekeh memakai jilbab yang lama. Do'a kami selalu kepada Allah SWT agar diberi kemudahan.

Istilah jilbab lontong, sebenarnya merupakan kata ejekan/sindiran. Seringnya adek memakai jilbab yang kecil, yang seolah-olah membungkus ketat kepalanya mirip bungkus lontong, kalau adek memakai jilbab yang kecil, kita akan bilang begini “jilbab lontong kok dipakai”, walau seringnya ngambek habis itu, tapi yah Bismillah.. karena niatnya agar lebih baik, jadi yah jalan teruss... –kasih sayang seorang kakak dengan cara yang berbeda... :)

Mungkin karena bising keseringan dikatakan jilbab lontong-jilbab lontong mulu, akhirnya adek mau juga memakai jilbab kerudungnya. Entah terpaksa entah ikhlas, tapi kami pikir ini adalah satu langkah kemajuan. Waktu jilbab kerudungnya dipakai kami bilang begini “nah, ini baru adek kakak, cantik kayak abah lho keliru kayak amak maksudnya hehehe...” 

Yang lebih membuat kita bersyukur adalah akhirnya adek bersedia untuk meneruskan sekolah di pondok pesantren setelah lulus SMP. Alhamdulillah, setelah di pondok, cara berpakaiannya ikut jadi lebih baik, terimakasih ya Rabb...

 Memperingati hari jilbab sedunia, semoga semakin jarang yang memakai ‘jilbab lontong’ dan yang sudah berjilbab semoga diberi kemudahan oleh Allah untuk menyempurnakannya.
Untuk adek kakak tetaplah menjadi bintang cemerlang bagi keluarga, bagi amak, dan bagi abah di surga. 
Amin....

Semarang, 07 September 2011
Salleum Sami

Read More …

Hujan turun...
Semoga datang dengan membawa pesan kedamaian dan kesejukkan dari surga
Pesan mata air telaga di tengah negeriku yang kering
Kering bukan tiada air justru disini malah berlimpah
Namun kering karena cinta kasih yang kian kempis
Lalu mungkin saja akan musnah dan sirna
Kering karena hilang sudah pehatian
Rasa saling memiliki, rasa saling peduli
Hilang sudah rasa welas asih manusia bumi

Kering karena tangan sudah enggan memberi
Karena hati sudah enggan merasa
Kering karena senyuman disini rasanya begitu pahit

Hujan turun...
Semoga membawa pesan mata air cinta 
Ditengah negeriku yang makin panas
Panas bukan karena sengat mantahari
Tapi panas melihat nasib anak-anak negeri di pinggiran jalanan
Di kolong-kolong jembatan
Yang hanya tidur beralaskan tikar dan kardus sampah
Berteman nyamuk
Berselimut daun dan debu jalanan

Seolah matahari enggan menyisakan sedikit saja sinarnya untuk mereka
Negeri yang kaya ini
Negeri yang subur ini hanya dalam mimpi saja

Begitukah pelakuan kita kepada calon pemimpin bangsa?
Lihat saja para pemimpin jabatan.. memuakkan!
Lebih sering comberan daripada moral keteladanan
Lebih senang memberi racun daripada seteguk air
Sekedar mengusir rasa haus dan lapar

Seolah tak rela kesejahteraan itu untuk negerinya
Disimpan sendiri di dalam perutnya -laknat! 
Mungkin hati nuraninya sudah ditikamnya sampai mati

Ya Rabbi
Apakah betul negeri ini tidak ditakdirkan untuk bahagia?
Tidak pantas untuk sejahtera?
Bencana demi bencana datang silih berganti

Ya Rabbi
Apakah cerita manis itu sudah habis?
Apakah tidak ada yang tersisa sedikitpun cahaya untuk negeri kami? 

Ya Rabbi
Suatu saat kelak
Semoga Engkau berkenan Rahmat dan kasih-Mu untuk negeri kami
Sepeti air yang membawa kehidupan
Seperti hujan yang menjanjikan sebuah harapan

Ya Rabbi
Aku percaya 
Langit esok hari akan terlihat jauh lebih indah..

Semarang, 06 September 2011
salleum sami
Read More …